Friday, December 28, 2012

Cerita Desember

Seiring dengan bertambahnya usia, gue rasa blog ini sudah beralih fungsi. Dari sebelumnya sebagai tempat curhat (bisa dibaca: tempat sampah) karena ga ada org secara real time yang bisa dengerin spontaneous mind di depan gue, kini blog yang usianya kurang lebih dua tahun ini sudah jadi catatan-catatan kecil yang menyimpan pahit manisnya bagian hidup gue.

Ya berhubung sibuk, cape, dan lupanya gue meng-update blog ini, jadinya jurnal maya ini jadi sering keteteran. Yaudalahya.. Dari pada gue berbawel ria dengan prolog yang ga jelas ini, mending langsung mulai aja update-an pertama (berasa kayak host program TV)

Sekarang, tepatnya di tahun 2012, gue sudah memasuki tahun terakhir kuliah. Yang berarti, sudah lepas dari jadwal ujian yang bisa meluluhlantakkan jadwal liburan. Ya, karena kalau tahun terakhir kan tinggal sidang proposal dan sidang skripsi. Jadi, goodbye to ujian TV presenter lah, ujian komunikasi massa lah, dan ujian-ujian lainnya. Gawatnya ya juga itu. Karena cuma ada dua ujian besar dengan sistem gugur. Kalo gue ga lewat, ya gugurlah bunga di taman #amitamit #ketokkayu

Dan di tahun terakhir ini pula, gue memasuki masa magang. Dan Puji Tuhan, gue diterima di majalah remaja pertama kesayangan kalian. Apalagi kalau bukaannnnnn..... GADIS!!!! Berikan tepuk tangan yang paling meriah untuk GADIS!!!
Kenapa perlu tepuk tangan? Ya memang karena anak-anak yang kerja di sono asik-asik. Ga memandang sebelah mata anak magang. Bayangin aja, di hari kedua gue magang, gue uda dipercaya untuk nulis tentang salah satu seleb dengan space satu halaman. Bahkan di hari ketiga, gue uda disuruh langsung liputan, dan sendiri, tanpa ngekor sapa pun. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, semua orang di sono, baik senior maupun junior, dipanggil 'kakak'. Bahkan gue pun termasuk dalam sebutan itu. Alhasil, waktu makan siang, salah satu rekan manggil, "Kak, kuliahnya dimana?" dan gue karena ga berasa dipanggil, tetap nyendokin potongan ayam ke mulut. Setelah disenggol, gue baru ngeh.

Trus, ternyata kerja di sini ga beda jauh dengan kerjaan gue waktu di kampus. Sama-sama liputan dengan cara yang sama, sama-sama nyelonong seenak jidat maju ke depan deket narasumber buat ambil foto, dan sama-sama nulis artikel. Jadi gue ga terlalu susah adaptasinya. Ya bedanya, kalau di kampus, jadwal acaranya yang nggak ada matinya; kalau di GADIS, deadline-nya membabi buta. zzz...

Dan ga berasa periode 3 bulan magang itu akan segera berakhir dalam waktu hitungan jari. Kenangan-kenangan yang lucu, manis, mengejutkan, dan menegangkan sudah cukup banyak yang terjadi. Mulai dari denger kabar salah satu senior jadi juara lomba makan dengan hadiah iPhone, seru-seruan pesta kostum pas Halloween, ambil bagian di GSFR 2012, lahiran bayi salah satu senior, sampai berita duka cita yang datang dari keluarga senior yang cukup akrab dengan gue.


Semua memori itu bisa tetep dilanjutkan kok, dengan kontrak yang lebih mengikat tentunya. Cuma gue nya aja yang masih butuh waktu untuk berpikir akankah mengikatkan diri dengan teman-teman yang keterlaluan manisnya ini. Ya, ada plus minus nya lah ya. OK. Gue ga bikin post ini untuk ngomogin kerjaan.

Oiya, berhubung di bulan terakhir dalam siklus satu tahun, entah mengapa, sejujurnya gue serasa mati rasa melewati Natal kali ini. Ya walaupun hidup gue ga lurus banget, setidaknya gue masih bisa terbawa euphoria Natal yang dibangun oleh orang-orang Amerika itu. Tapi kali ini, bener-bener ga merasakan apa-apa. Bahkan ketika gue duduk manis mendengarkan khotbah 3 jam secara seksama di gereja sekalipun. Ga sedih, ga seneng, ga mellow, ga sok-sok romantis. Ya pokoknya, flat abis. (Berdasarkan karangan yang baru saja terlintas di kepala gue) Mungkin aja udah waktunya kali ya, gue harus mendefinisikan Natal sesuai dengan yang seharusnya, bukan seperti definisi toko-toko yang memberi potongan harga ataupun definisi dari mall-mall yang memutar lagu slow Natal, yang dalam sekejab bisa memunculkan perasaan mellow.

Akhirnya, lumayan lah. Suasana Natal itu akhirnya mampir juga di diri gue ketika gue ikut konser klasik yang diadain sama gereja gue. Gila. Itu konser sih menguji iman banget, lho. Bukan cuma isi konsernya, tapi lebih karena sore sebelum jam konser itu dimulai, hujan sedashyat-dashyatnya terjadi di seluruh penjuru Jakarta. Gedenyaaa naujubilla. Itu uda kayak air laut ditumpahin. Sempat terbesit di kepala, "Yaudalah direlain aja itu harga tiketnya, daripada susah pergi susah pulang. Apalagi si Johan (temen tebengan) kagak bawa mobil juga. Jadi perginya pake taxi pula." Ditambah dengan nyokap n bokap yang mewanti-wanti buat gue mengurungkan niat buat pergi. Ahh.. Tiba-tiba gue kepikiran isi khotbah pendeta gue pas kebaktian Natal di hari sebelumnya yang ngomongin soal kesempatan. Kira-kira beliau ngomong begini, "Waktu lampau adalah milik setan. Waktu yang akan datang adalah milik Tuhan. Waktu sekarang adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kamu, dengan anugrah, supaya kamu bisa menjalaninya. Saya selalu menangkap kesempatan yang Tuhan berikan. Dan Puji Tuhan, hingga umur 73 seperti sekarang, bisa dibilang tidak ada satupun keputusan yang saya buat adalah salah." Nah lho! Itu berarti gue harus berangkat ke konser, kan? Ya, kan?

Paling bener, setidaknya gue mandi dulu lah. Urusan nanti hujannya reda ato ga, liat nanti lagi. Tapi alhamdulilah Puji Tuhan, gue berangkat dan mendapatkan secercah suasana Natal di konser itu. Oiya, anway, ini adalah konser terakhir dimana gue bisa mendapatkan harga mahasiswa. Karena, mulai tahun depan, gue uda 22 dan harga yang berlaku adalah harga umum! :( Huaaaa... kembalikan masa mudakuuuu..........

Oiya, Puji Tuhan juga, sedikit demi sedikit gue uda bisa mengungkapkan kemana perginya gue selama Natal ini tanpa ditutup-tutupi dan perasaan takut, terutama ke nyokap dan kakak gue. Mereka bisa menerima 'tiba-tiba' lurusnya salah satu anggota keluarga mereka. Semoga keterbukaan ini bisa makin menjalar, sampe gue bisa berani terbuka (lagi) soal kelurusan gue ke bokap. Amin.



Sunday, February 5, 2012

Mistake

Life is just too cruel to be cried on.

I know it's not only my story.
But I choose to get over it.
Honestly, I don't care what steps you would take

Just get used to it.

I'm not care about you anymore.

Since the first,
I have no idea what the state we were in

So I go,
and don't blame me.

We know it's wrong.
It is a mistake.